Info Penting

Showing posts with label Khutbah Syaikh. Show all posts
Showing posts with label Khutbah Syaikh. Show all posts

Thursday, June 11, 2009

Ringkasan khutbah Prof. Dr. Abdul Razak Al Sa'adi Fri, 6/5/09

Oleh: Hambari Nursalam

Dalam khutbah tadi beliau membahas tentang istiqamah, yaitu istiqamah dalam beramal dan mentaati Allah swt. Rasulullah saw telah memberi tauladan kepada umatnya bagaimana beristiqamah dalam beramal, beramal secara kontinyu tanpa terputus. Karena Allah menyukai amal yang dilalukan sedikit tapi berterusan dari pada amalan yang banyak tapi hanya sesekali. Di dalam al qur’an disebutkan:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah.” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Jangan kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. (QS. Fushilat : 30-32)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah.” Kemudian mereka meneguhkan pendirian” dari potongan ayat ini memiliki maksud yaitu dalam beramal haruslah memenuhi dua aspek supaya amal diterima oleh Allah dan tidak sia-sia, pertama adalah iman dan kedua adalah istiqamah. Iman bisa diibaratkan seperti sebidang tanah yang diatasnya dibangun sebuah bangunan (amal), tentu tidak mungkin untuk mendirikan bengunan tanpa ada tanah. Kemudian dalam beramal haruslah beristiqamah (berterusan), salah satu nilai dari amalan akan dilihat dari keistiqamahannya. Allah tidak menilai hasil dari amalan tapi yang dinilai ialah proses. Dan tentunya dalam beramal tentunya diniatkan hanya karena Allah, (innamal a’malu binniyaat).

“maka malaikat akan turun kepada mereka” maksudnya malaikat turun kepada orang yang beriman dan beritiqamah untuk memberikan kabar gembira. Para malaikat turun pada tiga masa: pertama, ketika nyawa dicabut dan sampai tenggorokan. Pada masa ini adalah masa ditutupnya pintu ampunan Allah. Ketika nyawa sudah sampai di tenggorokan, seseorang akan merasa bingung dan takut, bagi yang amalnya saleh maka tampak di pandangannya pemandangan surga. Sedangkan yang banyak dosa telah tampak pemandangan neraka. Pada saat ini datang malaikat manenangkan orang yang beriman dengan mengatakan: “Jangan kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih”. Kedua, malaikat turun pada masa jenazah telah seleseai dikebumikan, para malaikat akan memberikan pertanyaan-pertanyaan, pada saat ini arang yang beriman akan ditenangkan oleh para malaikat dengan mengatakan: “Jangan kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih”. Ketiga, malikat turun ketika hari kebangkitan. Pada masa itu semua orang akan merasa bingung tidak tahu akan kemana, namun bagi orang yang beriman malaikat akan datang kepada mereka dan mengiringinya seraya mengatakan: “Jangan kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. “Kami adalah pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat”. “Bagi kalian di dalamnya apa yang kalian inginkan dan kalian minta”.

Rasulullah selalu memenggalakkan kepada para sahabat dan umatnya untuk selalu beristiqamah dalam beramal. Dalam hadits beliau bersabda:

“Sebaik-baik amalan kepada Allah adalah perbuatan yang dikerjakan secara berterusan walaupun sedikit.\" (HR: Muslim).

Ketika beliau ditanya oleh seorang sahabat, beliaupun menyuruh sahabat tersebut untuk beristiqamah:

“Aku berkata, “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku satu perkataan dalam Islam yang aku tidak akan bertanya kepada seorang pun selain engkau. Beliau bersabda, “Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah (jangan menyimpang).” (HR Muslim dari Sufyan bin Abdullah)

Pada khutbah yang kedua beliau menyebutkan tentang amalan yang dilakukan oleh orang yang beriman. Orang beriman masuk surga bukan karena amal yang telah dilakukan tetapi mereka masuk surga karena rahmat Allah semata. Amal perbuatan yang mereka lakukan adalah sekedar jalan untuk memperoleh ridha Allah.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?” . Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

Ringkasan khutbah Prof. Dr. Abdul Razak Al Sa'adi Fri, 5/29/09

Oleh: Hambari Nursalam

Khutbah tadi diawali dengan kisah yang disebutkan di dalam hadits Qudsi diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yaitu: tentang tiga orang pemuda sedang bepergian, mereka tertahan oleh hujan dan mereka berlindung di dalam sebuah gua pada sebuah gunung. Sebongkah besar batu jatuh dari gunung melewati mulut gua tersebut dan menutupnya. Mereka berkata satu sama lain, \'Pikirkanlah perbuatan baik yang pernah engkau lakukan di jalan Allah, dan berdoalah kepada Allah dengan menyertakan perbuatan-perbuatan itu sehingga Allah akan membebaskanmu dari kesulitan yang kau hadapi. Salah satu di antara mereka berkata, \'Ya Allah! Aku memiliki kedua orang tua yang telah tua renta, dan aku memiliki anak-anak yang masih kecil yang aku telah memberikan susu yang aku miliki kepada kedua orang tuaku terlebih dulu sebelum memberikannya kepada anak-anakku. Suatu hari, aku pergi jauh untuk mencari tempat merumput (bagi domba-dombaku), dan tidak kembali ke rumah hingga larut malam dan menemukan kedua orangtuaku sedang tidur. Aku mengisi persediaan makanan dengan susu seperti biasanya dan membawa bejana susu tersebut serta meletakkannya di atas kepala mereka, dan aku tidak ingin membangunkan mereka dari tidurnya, dan aku pun tidak ingin memberikan susu tersebut kepada anak-anakku sebelum orang tuaku, walaupun anak-anakku sedang menangis (kelaparan) di bawah kakiku. Maka keadaanku dan mereka tersebut berlanjut sampai dini hari. (Ya Allah!) Apabila Engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan semata-mata hanya karena Engkau, maka tolonglah bukakan sebuah lubang agar kami dapat melihat langit.\' Maka Allah membukakan untuk mereka sebuah lubang yang dengannya mereka dapat melihat langit.

Kemudian pemuda yang kedua berkata, \'Ya Allah! Aku memiliki seorang saudara sepupu yang aku cintai seperti halnya gairah seorang pria mencintai seorang wanita. Aku telah mencoba merayunya tetapi ia menolak hingga aku membayarnya sebanyak seratus dinar. Maka aku pun bekerja keras sampai dapat mengumpulkan seratus dinar dan aku pergi menemuinya dengan uang itu. Namun ketika aku duduk di antara kedua kakinya (untuk melakukan hubungan seksual dengannya), ia berkata: Wahai hamba Allah! Takutlah kepada Allah! Jangan merusakku kecuali dengan cara yang sah (dengan perkawinan)! Maka aku pun meninggalkannya. Ya Allah! Apabila Engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan demi Engkau semata, maka biarkanlah batu tersebut bergerak sedikit lagi untuk mendapatkan lubang yang lebih besar.\' Maka Allah menggeser batu tersebut untuk menjadi lubang yang lebih besar.

Dan pemuda yang terakhir (ketiga) berkata, ‘Ya Allah! Aku mempekerjakan seorang budak dengan upah sebanding dengan satu Faraq beras, dan ketika ia telah selesai dengan tugasnya, ia meminta upah, tetapi ketika aku memberikan upah kepadanya, ia menyerah dan menolak untuk menerimanya. Kemudian aku tetap memberikan beras tersebut kepadanya (beberapa kali) hingga aku dapat membeli dengan harga hasil produksi, beberapa ekor sapi dan gembalanya. Setelah itu, budak tersebut datang kepadaku dan berkata: (Wahai hamba Allah!) Takutlah kepada Allah, dan jangan berbuat tidak adil kepadaku dan berikanlah upahku. Aku berkata (padanya): Pergilah dan ambillah sapi-sapi itu beserta gembalanya. Maka ia pun mengambilnya dan pergi. (Maka, Ya Allah!) Apabila Engkau menganggapnya sebagai perbuatan yang kulakukan semata-mata demi Engkau, maka geserlah bagian yang tersisa dari batu tersebut.’ Maka kemudian Allah membebaskan mereka (dari kesulitannya) dan batu tersebut telah berpindah seluruhnya dari mulut gua tersebut.

Dari kisah diatas terdapat banyak pelajaran yang dapat diambil, namun yang paling utama yang akan dibahas dalam khutbah ialah berkenaan dengan keikhlasan. Sifat ikhlas merupakan ciri umat mukmin, sifat yang sangat di sukai oleh Allah swt. Semua perbuatan kalau tidak didasari dengan ikhlas akan tertolak di hadapan Allah. Bahkan di dalam al qur ‘an Allah telah menyebutkan tentang sifat ini di dalam suatau surat yang kecil dan ringan secara lafaz namun memiliki kedudukan yang luar biasa, ‘sepertiga al qur’an’ yang apabila dibaca tiga kali maka pahalanya sama seperti mengkhatamkan al qur’an seluruhnya, yaitu surat Al Ikhlas.

Allah telah memberi perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki seorang tuan yang hanya bekerja dan mengabdi hanya untuk tuannya dan seorang hamba yang memiliki dua orang tuan sehingga ia harus berbagi dalam mengabdi. Tentu saja hamba yang pertama lebih baik.

Sebagai mukmin harus selalu menempatkan ikhlas dalam semua perbuatan, agar apa yang diusahakan tidak sia-sia. Misalnya seorang guru harus ikhlas dalam mengajar, seorang pelajar harus ikhlas dalam menuntut ilmu, seorang petani ikhlas dalam pekerjaannya, seorang pengusaha ikhlas dalam usahanya, seorang pegawai ikhlas menjalankan tugasnya, dll. Ikhlas merupakan sumber kekuatan dan pondasi terhadap sebuah peradaban. Umat islam dahulu maju karena umatnya adalah orang-orang yang ikhlas dalam beramal. Seoarang mukmin juga harus berusaha untuk bisa berkontribusi terhadap agamanya. Umur dan kesempatan yang diberikan oleh Allah tidak disia-siakan hanya untuk makan dan minun. Kita hendaknya mencontoh para sahabat dan para khalifah pemimpin umat islam terdahulu yang selalu beramal dengan ikhlas, sehingga meraka mampu mensejahterakan umat islam, memartabatkan umat islam. Meraka mampu meperluaskan da’wah ke berbagai wilayah seperti ke timur hingga ke China, ke barat hingga ke Spanyol, ke utara hingga ke Istambul, ke selatan hingga ke Ethiopia. Semua keberhasilan tersebut adalah kerena keikhlasan mereka dalam mencari ridha Allah. Dalam alquran disebutkan:

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi Balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS Al Fath: 18)

Lawan dari ikhlas adalah riya’ yang berasal dari kata ‘rumya’ yaitu beramal supaya dilihat orang. Sifat ini adala sifatnya orang munafiq. Dalam al qur’an disebutkan:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”(An Nisa’:142)

Sedangkan orang mukmin mereka adalah orang yang selalu ikhlas, semua amal perbuatannya hanyauntuk memperoleh ridha Allah semata.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.( Al Bayyinah:5)

Dalam khutbah kedua beliau menyebutkan bahwa riya’ adalah perbuatan syirik, (syirkul asghar) syirik kecil. Dalam hadits juga disebut sebagai (syirkul khafi) syirik tersembunyi. Maka hendaknya kita berhati-hati terhadap sifat ini.

Selain itu beliau menyebutkan bahwa dalam shalat jumat terhadapat banyak fadilat (keutamaan-keutamaan), maka hendakya kita jangan mengetepikan keutamaan tersebut. Kita dianjurkan untuk datang shalat jum’at awal, karena terdapat keberkahan, kalau tidak ada hal-hal penting bersegeralah datang ke masjid. Karena duduk menunggu mulainya shalat jum’at sudah dihitung pahala. Dalam hadits disebutkan:

“Jika datang hari Jum’at, maka pada setiap pintu masjid terdapat malaikat yang menulis orang masuk masjid secara berurutan. Jika imam telah duduk (di mimbar) mereka menutup buku-bukunya dan duduk mendengarkan peringatan (dari khutbah). Perumpamaan orang yang datang awal sekali adalah seperti orang yang berkurban dengan seekor unta, kemudian seperti orang yang berkurban sapi, lalu seperti orang yang berkurban kambing, selanjutnya seperti orang yang berkurban seekor ayam dan yang terakhir seperti orang yang bersedekah dengan sebutir telur”. (HR. Muslim)

Kemudian beliau menyebutkan bahwa beliau melihat para jamaah di masjid setelah shalat jum’at membuat kelompok-kelompok atau halaqah-halaqah, itu sangat baik. Namun jangan sampai menimbulkan suara dan membuat keramaian karena masih banyak orang yang sedang menjalankan shalat sunnat. Jangan sampai mengganggu orang yang masih shalat.

Beliau juga menasehatkan kepada kepada para jamaah untuk melakukan shalat sunnat empat rakaat setelah shalat jum’at, karena Rasulullah saw menganjurkan untuk shalat sunnat setelah jum’at. Dalam hadits: “Jika salah seorang di antara kalian mengerjakan shalat Juma’at, maka hendaklah dia mengerjakan shalat empat rakaat setelahnya.” (HR. Muslim.

Ringkasan khutbah Syekh Prof. Dr. Ali Jumu'ah Fri, 4/10/09

Oleh: Hambari Nursalam

Khutbah tadi membahas tentang menuntut ilmu, diawali dengan dibacakan ayat :“bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.bacalah,dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.yang mengajar (manusia) dengan pena.dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”( Al Alaq:1-5)

Islam menganjurkan umatnya untuk selalu membaca, karena membaca adalah awal dari pada ilmu, bahkan ayat yang pertama kali turun adalah perintah membaca “iqra” bacalah!. Umat islam dituntun untuk membaca dalam dua bentuk yakni yang tersurat dan yang tersirat, yang tersurat ialah kitabullah al qur’an yang di dalamnya adalah sumber petunjuk dan ilmu pengetahuan sedangkan yang tersirat adalah alam semesta, seorang mukmin harus mampu membaca alam sehingga dengan itu ia mampu mengambil i’tibar dan bertambah mengagumi ciptaan Allah swt sehingga menjadikannya bertambah dekat padaNya. Kitab alqur’an harus menjadi bacaan utama bagi setiap mukmin ia adalah kitab suci yang terjaga keasliannya, al qur’an adalah kalamullah bukan makhluk, ini menurut mazhab yang haq (benar) yakni ahli sunnah wal jama’ah.

Selanjutnya dalam khutbah tadi disebutkan betapa penting menuntut ilmu, dalam al qur’an disebutkan melalui firman-Nya bermaksud: “Adakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar: 9) dalam ayat ini disebutkan “orang yang mengetauhi atau orang yang berilmu”, kata umum tanpa menghususkan seperti: orang yang mengetaui syari’ah, aqidah, agama dan lain-lain. Jadi maksudnya adalah semua jenis ilmu pengetahuan. Apabila belajar ilmu apapun yang asalkan bermanfaat dihitung sama pahalanya disisi Allah swt.

Kemudian disebutkan ayat:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang yang mengetahui-menggunakan
fungsi pikirnya).” (Al Fathir:28)

di dalam ayat ini disebutkan orang yang paling takut pada Allah adalah ulama. Kata ‘ulama’ adalah bentuk jamak (plural) dari ‘aliim’(sangat berilmu) bukan ‘alim’ (berilmu), jadi maksudnya seseorang semakin banyak ilmunya akan semakin takut pada Allah, karena sudah seharusnya semakin bertambah ilmu seseorang menjadikannya semakin tunduk. Seseorang yang belajar suatu ilmu atau bertambah ilmunya ia akan merasa ilmunya sangat sedikit dan banyak lagi ilmu yang belum diketahui.

Di dalam al qur’an disebutkan do’a: “rabbi zidni ilman” ya Allah tambahkanlah ilmu kepadaku, do’a ini jika dibaca setiap hari oleh seorang mukmin yang menuntut ilmu maka insyaallah akan ditambahkan ilmunya yang dipelajari hari ini dan dikuatkan ilmu yang sudah dipelajari pada hari yang sebelumnya.

Rasullullah juga sangat menekankan kepada pengikutnya untuk selalu menuntut ilmu, dalam sabdanya disebutkan’tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat’,dan dalam hadits yang lain disebutkan yang artinya:

“Barang siapa yang menempuh jalan guna menimba ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya, berkat amalan ini jalan menuju ke surga.” (HR. Muslim)

Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa jalan menuntut ilmu adalah jalan menuju surga, jadi sebagai mukmin haruslah memanfaatkan kesempatan ini yakni jalan surga, contohnya jalan menuntut ilmu yang dijanjikan pahala dimudahkan jalan ke surga ialah: menghadiri pengajian dan mendengarkannya, mendatangi perpustakaan dan membaca buku-buku didalamnya, berangkat ke pasar dengan menyempatkan diri untuk membeli buku, dan lain-lain.

Kemudian ilmu merupakan derajat paling tinggi sesudah iman, dalam islam orang yang yang berilmu adalah sekufu’ (sederajat) dengan golongan apapun. Misalnya bagi seoraang wali boleh memilih calon untuk anaknya dengan melihat kufu’ yang sesuai bagi anaknya, tetapi kalau ada diantara calon yang berilmu maka ia dianjurkan memilih yang berilmu karena orang yang berilmu dan taat adalah lebih utama dan sekufu’ dengan siapa saja.

Dan pada akhir khutbah beliau menyebutkan hal yang utama dalam menuntut ilmu, yakni haruslah membetulkan niat, niat ikhlas semata mata mencari rida Allah swt. Karena kalau menuntut ilmu tetapi niatnya bukan kerena Allah maka ilmunya tidak bermakna apa-apa, bagi dirinya dan orang lain. Dalam hadist disebutkan:

yang maksudnya: “Segala amal perbuatan berdasarkan kepada niat, dan setiap orang memperoleh apa yang diniatkannya”. HR.Bukhari Muslim.

Ringkasan khutbah Prof.Dr.Abdul Razak Al Sa'adi Fri, 4/3/09

Oleh: Hambari Nursalam

Dalam khutbah tadi diawali dengan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa beliau telah mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Ada tiga orang dari Bani lsra’il, belang, botak dan yang ketiga buta. Ketika Allah akan menguji mereka, lalu Allah mengutus seorang Malaikat berupa manusia, maka datanglah Malaikat itu kepada orang yang belang dan bertanya. Apakah yang kau inginkan? Jawabnya: Kulit dan rupa yang bagus serta hilangnya penyakit yang menyebabkan orang-orang jijik pada saya. Maka diusap oleh Malaikat itu. Seketika itu juga hilang penyakitnya dan berganti rupa serta kulit yang bagus. Kemudian ditanya lagi : Kekayaan apakah yang kau inginkan? Jawabnya: “Unta”. Maka diberinya satu unta yang bunting, sambil dido’akan: BAARAKALLAAHU LAKA FIIHAA.

Kemudian datanglah Malaikat itu kepada sibotak dan bertanya : Apakah yang kau inginkan? Jawabnya : Rambut yang bagus dan hilangkan penyakit saya yang menyebabkan kehinaanku di dalam pandangan orang. Maka diusapnya, lalu seketika itu juga tumbuh rambut yang bagus. Kemudian ditanya lagi : Kini kekayaan apa yang kau inginkan? Jawabnya: ..Lembu”. Maka diberinya satu lembu yang bunting, sambil dido’akan: BAARAKALLAHU LAKA FlIHAA. (Semoga Allah memberkahi bagimu kekayaanmu itu). Lalu datanglah Malaikat itu kepada Si buta, dan bertanya: Apakah yang kau inginkan? Jawabnya: Kembalinya penglihatan mataku, supaya saya dapat melihat orang. Maka diusapnya, segera pula terbuka matanya dapat melihat. Selanjutnya ditanya pula : Kekayaan apakah yang kau inginkan? Jawabnya: “Kambing”. Maka diberinya seekor kambing yang bunting, sambil dido’akan. Kemudian setelah beberapa tahun dan masing-masing telah mempunyai daerah tersendiri yang penuh dengan unta, atau lembu ataupun kambing.

Maka datanglah Malaikat itu berbentuk seorang miskin, laksana keadaan sibelang dahulu pada waktu ia belum sembuh dan kaya itu, maka berkata: Saya seorang miskin yang telah terputus hubungan dalam perjalanan saya ini, maka tiada yang dapat mengembalikan saya kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian bantuanmu, maka saya mengharap demi Allah, Allah yang memberi rupa dan kulit yang bagus, satu unta saja untuk meneruskan perjalananku ini. Jawab si belang. Hak-hak orang masih banyak, saya tidak dapat memberimu apa-apa, boleh minta saja di lain tempat. Berka­ta Malaikat itu: Saya seolah-olah pernah tahu padamu tidakkah kau dahulu yang belang dan dijijikan orang juga seorang miskin, kemudian Allah memberimu kekayaan? Jawab: Saya telah mewarisi kekayaan ini dari orang tuaku. Berkata Malaikat itu: Jika kau berdusta, semoga Allah mengembalikan keadaanmu sebagaimana dahulu. Kemudian pergi kepada si botak, dengan menyamar seperti keadaan si botak dahulu, dan berkata pula padanya sebagaimana yang dikatakan kepada si belang, namun juga mendapat jawaban seperti jawaban si belang, hingga di do’akan, jika kamu berdusta semoga kembali sebagaimana keadaanmu sedia kala.

Dan akhirnya datanglah kepada si buta, dengan menyamar seperti keadaan si buta dahulu semasa si miskin, dan berkata: Seorang miskin dan orang rantau yang telah putus hubungan­ dalam perjalanan, tidak dapat meneruskan perjalanan saya ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian bantuanmu, saya minta demi Allah yang mengembalikan pandangan matamu, satu kambing saja untuk meneruskan perjalananku ini. Jawab si buta: Dahulu saya memang buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku, maka kini ambillah sesukamu, saya tidak akan memberatkan sesuatupun kepadamu yang kau ambil karena Allah. Maka berkata Malaikat: Jagalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu telah diuji, maka Allah telah ridla dan murka kepada kedua temanmu itu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dari hadits banyak pelajaran yang dapat diambil, namun pada kesempatan khutbah tadi yang diulas adalah tentang syukur. Syukur merupakan perbuatan yang sangat mulia dan merupakan manhaj para nabi dan rasul. Banyak kisah di dalam al qur’an yang menceritakan tentang para nabi dan rasul berkaitan dengan kesyukurannya, seperti kisah nabi Nuh as, nabi Ibrahim, kisah Luqman dan lain-lain. Bahkan di dalam al qur’an terdapat lima surat yang diawali dengan kalimat “alhamdulillah” yaitu: al Fatihah, al An’am, al Kahfi, as Saba’ dan al Fatir.

Dalam khutbah tadi juga disebutkan tentang perbedaan antara “as sukru” dan “al hamdu”, syukur dan pujian, keduannya memiliki makna yang hampir sama namun sebetulnya ada sedikit perbedaan, syukur memiliki tempat yang umum (diimplementasikan dengan perbuatan) namun memiliki sebab yang khusus (apabila mendapatkan nikmat), sebaliknya pujian memiliki tempat yang khusus (diucapkan lisan) namun memiliki sebab yang umum(mendapat nikmat atau segala kebaikan yang berlaku pada diri kita).

Rasulullah saw telah mengajarkan kepada kita apabila mendapatkan nikmat hendaklah untuk melaksanakan sujud syukur. Rasulullah merupakan manusia yang paling bersyukur kepada Allah swt dan sangat pandai mengungkapkan kesyukurannya, misalnya beliau melaksanakan puasa sunat hari senin ketika ditanya oleh sahabatnya, beliau menjawab: hari senin adalah hari lahirku maka aku berpuasa untuk mengungkapkan rasa syukurku.

Kemudian Rasulullah selalu melakukan salat malam yang panjang sehingga kaki beliau bengkak, melihat keadaan yang begitu ada di antara sahabatnya yang menanyakan, bukankan engkau sudah dijamin masuk surga?jawab beliau: “afala akunu abdan syakura”.

Demikianlah diantara teladan yang diajarkan oleh Rasulullah dalam bersyukur.

Dalam khutbah kedua disebutkan:

يصبح على كل سلامي من أحدكم صدقة فكل تسبيحة صدقة وكل تحميدة صدقة وكل تهليلة صدقة وكل تكبيرة صدقة وأمر بالمعروف صدقة ونهي عن المنكر صدقة ويجزئ من ذلك ركعتان يركعهما من الضحى

“Pada setiap pagi, setiap sendi tubuh Bani Adam harus bersedekah. Setiap tasbih bisa menjadi sedekah. Setiap tahmid bisa menjadi sedekah. Setiap tahlil bisa menjadi sedekah. Setiap takbir bisa menjadi sedekah. Setiap amar ma’ruf nahi munkar juga bisa menjadi sedekah. Semua itu dapat digantikan dengan raka’at yang dilakukan pada waktu Dhuha” (HR. Muslim).

Ringkasan khutbah Prof.Dr.Abdul Razak Al Sa\'adi Fri, 3/13/09

Oleh:Hambari Nursalam

Beliau dalam khutbahnya tadi menyampaikan tentang kecintaan kepada Rasulullah.

Khutbah tadi diawali dengan kisah, pada tahun kelima hijrah Rasulullah beserta keluarga dan sahabatnya berangkat ke Mekkah untuk menunaikan umrah, namun di tengah perjalanan dihalangi oleh kaum Quraisy. Maka Rasulullah melakukan musyawarah dengan mereka yang dikenal dengan “perjanjian Hudaibiyah”. Kaum Quraisy diwakili oleh Urwah bin Mas’ud, sekembalinya Urwah ke Mekkah, ia menceritakan bahwa selama ini ia telah melakukan diplomasi dengan berbagai kerajaan besar seperti Romawi, Parsi dan lain-lain, juga telah menemui raja-raja dan kaisar-kaisar namun baru kali ini ia menjumpai seorarang pemimpin (Muhammad) yang sengat dicintai dan dihormati oleh pengikutnya, bahkan para pengikutnya sanggup melakukan apa saja untuk melindunginya.

Kisah diatas menunjukkan betapa cintanya pengikut Rasulullah terhadap dirinya. Kisah lain seorang sahabat bernama Tsauban datang kepada Rasulullah dengan keadaan yang menyedihkan, Rasulullah bertanya: apakah kamu sakit?

“Tidak “

Lalu kenapa?

Keadaanku seperti ini kerena aku selalu berfikir tentangmu, aku akan mati dan engkau akan mati, padahal selama ini aku selau menyertaimu dan tidak pernah melupakanmu. Jika berpisah sebentar saja aku akan merinduimu, maka seandainya aku mati aku akan bersama para mu’min sedangkan engkau bersama para nabi, jadi bagaimana denganku?

Rasulullah pun diam, karena beliau tidak akan mengemukakan sesuatu kecuali sudah mendapat wahyu, dan turunlah ayat:

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An-Nisa’: 69)


Maka Tsauban bergembira dengan kabar dari ayat tersebut. Rasulullah juga membetulkan posisi cinta Umar bin Khatab kepada beliau yakni cinta kepada Rasulullah haruslah diutamakan dari pada cinta pada diri sendiri dan sanak keluarga.

Dalam khutbah tadi juga disebutkan tentang manisnya iman. Yakni seorang mu’min akan merasakan manisnya iman apabila memenuhi tiga perkara: mencintai Allah dan RasulNya melebihi cinta pada yang lain, mencintai seseorang karena Allah semata, kemudian tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu sebagaimana ia tidak suka dicampakkan kedalam neraka.

Selain itu beliau dalam khutbah tadi menyebutkan beberapa hal bagaimana seorang muslim seharusnya dalam mencintai rasulullah. Pertama, mentaati Allah dan Rasulnya, yakni mengikuti dan menjalankan syariat dari Allah yang disampaikan melalui nabiNya. Kedua, memuliakan Rasulullah. Ketiga, selalu bersalawat kepada nabi, terutama pada hari jum’at sangat dianjurkan untuk banyak bersalawat kepada nabi. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang bakhil itu adalah orang yang apabila disebut nama nabi tetapi tidak mau besalawat, dalam hadits lain disebutkan bahwa tidak sah salat tanpa ada salawat. Keempat, menghidupkan sunnah nabi saw. Kelima, mencintai keluarga dan sahabatnya, Rasulullah sangat mencintai keluarganya, isteri-isterinya, sahabat-sahabatnya jadi mencintai mereka semua berarti telah mencintai Rasullulah dan memusuhi mereka berarti memusuhi Rasulullah.

Umat islam pada masa sekarang ini hendaknya membela Rasulullah dan ajarannya, sama ada pembelaannya dilakukan melalui kekuatan politik, ekonomi, budaya dan lain-lain. Sebuah contoh, upaya pembaikotan yang dilakukan umat islam terhadap produk kaum kafir(zionis yahudi) beberapa bulan yang lalu, mereka menderita kerugian sekitar dua milyar Euro, kalau hal ini dilanjutkan sampai oktober mendatang misalnya, paling tidak kerugian mereka mencapai sekitar tujuh milyar Euro.

Pada khutbah yang kedua beliau menyebutkan bahwa sebagai umat mu’min haruslah mencintai nabinya, membenci atau mengingkarinya berarti telah melakukan dosa besar dan kefasikan. Dalam al Qur’an disebutkan:

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS.At Taubah 9:24)

Beliau juga mengucapkan tahniah kepada segenap komunitas IIUM yang telah meyambut dan memeriahkan maulid nabi, dengan harapan hal tersebut bisa mengingatkan kembali dan menambah kecintaan kepada Rasullullah SAW.

Ringkasan khutbah Prof.Dr.Abdul Razak Al Sa’adi Fri, 2/20/09

Oleh: Hambari Nursalam

Dalam kutbahnya beliau membicarakan tentang kesempurnaan dan kesyumulan (menyeluruh) din islam. Beliau mengutip ayat al Qur’an surah al ma’idah ayat 3:


الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الأِسْلاَمَ دِيناً

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-redhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al-Maaidah : 3)


ayat diatas termasuk diantara ayat-ayat yang akhir turunnya, tetapi bukan yang terakhir, ayat ini diturunkan pada 9 zulhijjah di padang arafah ketika nabi Muhammad SAW menyampaikan kutbah pada haji wada’. Sedangkan ayat yang terakhir menurut jumhur ulama ialah surah al Baqarah ayat 281:

واتقوا يوما ترجعون فيه الى الله ثم توفى كل نفس ما كسبت وهم لا يظلمون

Rasulullah hidup setelah ayat ini diturunkan sekitar 9 malam namun ada juga yang mengatakan 31 hari.


Dalam surah al ma’idah ayat 3 di atas, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh manusia adalah agama yang sempurna, mencakup seluruh perkara yang cocok diterapkan di setiap zaman, setiap tempat dan setiap umat. Islam adalah agama yang sarat dengan ilmu, kemudahan, keadilan dan kebaikan. Islam adalah pedoman hidup yang jelas, sempurna dan lurus untuk seluruh bidang kehidupan.

Di sana Allah menyebutkan kata “akmaltu” untuk din (agama) sedangkan “atmamtu” untuk nikmat. Maksudnya ialah agama yang Allah turunkan benar-benar sempurna dengan apa yang di bawa oleh nabi Muhammad saw, sedangkan untuk nikmat bisa jadi Allah swt masih menambahkan kepada umat Muhammad saw. Demikian hikmah di bedakannya penggunaan kata “kamal” dengan “tamam”, padahal arti secara umumnya sama yaitu sempurna. Dan banyak contoh-contoh lain dalam al qur’an tentang penggunaan dua kata ini disesuaikan dengan hal-hal tertentu.

Beliau dalam khutbah tadi juga menyebutkan agama islam jauh berbeda dengan agama samawi yang lain seperti yahudi dan nasrani, kedua agama ini berlaku hanya ketika nabi mereka masih hidup, yahudi misalnya hanya ketika nabi Musa as hidup, ketika nabi Musa wafat maka agama yahudi tidak sah lagi dan harus mengikuti ajaran nabi selanjutnya yaitu Isa as, dan pengikut Isa as (nasrani) hanya berlaku ketika Isa as Masih ada, ketika Isa as wafat maka umat nasrani dituntut untuk mengikuti nabi Allah selanjutnya yaitu nabi Muhammad saw. Sedangkan agama islam diturunkan adalah untuk semua manusia dan berlaku untuk selamanya sampai hari akhir kelak. Jadi ajaran islam adalah agama yang menyeluruh dan mencakup semua aspek kehidupan.

Beliau juga menyebutkan bahwa di dalam islam tidak mengenal istilah pendeta, pastur (rijal ad din) dan sebagainya. Semua muslim laki-laki atau perempuan adalah mulia dan wajib berda’wah menurut kapasitasnya. Dan semua muslim adalah khalifah Allah, tidak ada perbedaan di hadapan Allah swt.

Seorang muslim juga harus melaksanakan ajaran islam secara menyeluruh, tidak boleh hanya mengambil hanya sebagian-sebagian saja, mencakup rukun dan syarat sebagai muslim. Selain itu juga islam menganjurkan umat muslim mejaga jasmani dan ruhnya,yakni memiliki badan yang sehat dan kuat serta ruh atau jiwa yang memiliki iman yang teguh pada Allah swt. Beliau mencontohkan dalam hal ini seperti buah, buah adalah terdiri dari kulit dan isi, jadi kalau seandaiya cuma ada kulit tanpa isi buah kurang bermanfaat, begitu pula kalau Cuma ada isi tanpa kulit juga akan terlihat cacat. Jadi islam menurut beliau sangat menekankan umat muslim untuk seimbang. Menjaga badan agar selalu sehat dan menghiasinya dengan pakaian dan perhiasan, dan juga menjaga ruh supaya tetap taat pada Allah.
 

Komentar Terbaru

Ikmalaysia Followers