Info Penting

Thursday, October 1, 2009

Di Lipatan Sajajadah Ramadhan (Bag 4)


Oleh: Ahmady
Setelah dua jam menjaring matahari melalui jendela kaca bus mini, akhirnya aku sampai di desaku, aku hampir lupa untuk mengucapkan selamat tinggal kepada gadis yang duduk di sebelahku, melainkan hanya tahu namanya Irma, dan memperkenalkan namaku. Dari obrolan singkat tidak lebih 25 menit itu kutangkap kedewasaan melebihi usianya.

Aku turun setelah menyerahkan ongkos kepada sopir dan berterimakasih atas jasanya. Rasanya lebih lama kali ini aku meninggalkan kampung halaman, melebihi waktu aku pulang untuk pertama kali dari tanah Jawa, agaknya nostalgia baru akan ku mulai dari detik ini. Di antara kerikil yang berserakan di atas jalan menuju rumah ku, kucari-cari celah untuk kusembunyikan wajahku dari orang-orang di sekelilingku.

Kepada Dewi, yang selalu berfigur “dia” setiap kali aku mengalamatkan namanya, aku malu karna aku terpaksa membuat dia tahu perasaanku. Kepada Edi aku seperti hama yang datang ingin merusak tanaman yang sekian lama ia pagari. Kepada kakakku, Ibuku, orang kampung, terlepas mereka tahu ataupun tidak tahu, jangan di pertanyakan lagi, malu kepada kedua orang itu saja cukup membuat duniaku sempit.

“Dari mana kang?” seseorang mengagetkan aku dari belakang.
“Mau pulang? Ayo naik, aku mau ke rumah Pak RK, kan melewati rumah sampean.”
Belum sempat aku jawab partanyaan yang satu dan yang berikutnya, dia lalu menyuruhku lompat ke tempat duduk belakang. Menyadari aku hanya diam selain mengucapkan terimakasih, dia lalu tidak dapat menahan perasaan ingin tahunya.
“Sampean tadi dari mana kang?” kali ini lebih lemah lembut.
“Dari Rumah teman, di Dayun. Barusan kamu bilang mau kemana Min?” Aku tidak ingin Amin bertanya macam-macam lagi.
“Mau ke rumah Pak RK kang, ada pembagian tugas untuk membantu Amil, malam Rabu kemaren ada musyawarah antara pengurus masjid, Amil dan pemuda RT satu, dua dan tiga.”
“RT satu, dua dan tiga saja?”
“Ia kang, yang bernaung di Masjid Sya’baniyyah. Ikut yuk kang, hanya beberapa orang kamaren yang bersedia, banyak yang lagi subuk, lagi pula Pak Mahmud Kemaren nanyain sampean, tapi sampeannya nggak ada. Dapat THR lho kang.”

Dua setengah meter Amin mempersuasi aku, sejanak ku tata kata-kata amin satu persatu, sebentar, kemaren ada musyawarah, ada Pak Mahmud, Imam shalat taraweh, ada THR, ah... mau kutaroh dimana lagi muka ku, karena ujung-ujungnya ada THR terus aku mengiyakan.
“Ah, aku mungkin agak sibuk Min, jadi sepertinya aku nggak bisa, maaf ya” Aku merasa malu, musyawarah tidak ikut, masa giliran ada THR di ujung cerita Amin, aku jadi ikut.
“Ya kang... tidak apa-apa. Sampai sini saja ya, buru-buru ni nanti ditunggu kawan-kawan”
Sepertinya Amin tidak mau orang lain menunggunya begitu lama, hmm... i’tikad yang baik, gumamku dalam hati.
“Aduh, ini sudah lumayan banget Min, Terimakasih banyak ya... oh iya, eh...”
“Kenapa kang?”
“Tidak, Cuma mau ngomong, hati-hait ya...” Apa masih layak aku kirim salam untuk Pak RK dan hadirin yang lain? Aku bertanya dalam hati. Hatiku juga yang menjawab ‘tidak’.
Tinggal hanya dua ratus meter menuju pintu rumahku, kelihatannya tidak ada siapa-siapa. Lebih baik Amin tidak menghantarku sampai di halaman rumah, tidak perlu ada kejadian penting, aku langsung menembus pintu dan menuju kamarku, kuletakkan tas dan kuraih handuk, lalu aku melangkah kekamar mandi setelah ku lepas pakaianku.
***

“Is, Ismail, bangun, kamu sudah asharan? Sudah hampir habis asharnya” Kakakku membuyarkan fantasiku.
Ya Allah, matahari sudah hampir menghilang, ku tatap jam dinding, 6.45 sore. Kain sarung yang tadi aku gunakan untuk shalat zuhur ternyata masih melekat di pinggangku, aku pulas di atas sajadahku, sukurlah sakit kepala yang tadi datang, sekarang sudah hilang dengan sendirinya. Secepat kilat aku mengambil wudhu, hanya tinggal sekitar satu setengah menit memasuki waktu diharamkan shalat, karena hanya tinggal kuning-kuning yang aku lihat. Tapi, asalkan Takbiratul Ihram-ku berada di hujung waktu yang halal, shalatku masih diterima meski nanti salamnya berada di waktu yang haram, begitu penjelasan Ibu Marfu’ah, garuwa guru ngajiku sewaktu di SMP.

Pak Hasan sendiri menerangkan panjang lebar tentang Shalat, kalau aku ketiduran sebelum waktu shalat, dan terbangun setelah habis waktu shalat tersebut, aku boleh meng-qadha setelah bangun, insya-Allah shalatku diterima, hal ini diperbolehkan meskipun tidak ada di zaman Rasulullah, menurutnya Fikih itu bukan mutlak dari Al-qur’an, kecuali ada totok-tombok dari para Ulama terdahulu.

Itulah sebabnya, Ahmad bin Hambal akan berpakaian biasa, kadang berwudhu, kadang tidak ketika mengkaji ilmu Fikih kepada Abu Abdillah Muhammad bin Idris. Berbeda ketika beliau menuntut ilmu Hadits, beliau akan memastikan mempunyai wudhu, berpakaian rapi dan serba putih, dan mengenakan sorban pengikat kepala. Baginya hal itu lambang penghormatan beliau terhadap ilmu Hadits di samping penghormatan kepada gurunya, Imam Syafi’i. Menurunya, ilmu Hadits mempelajari wahyu Allah sedangkan Ilmu Fikih lebih kepada ijtihad manusia. Tuhan lebih tahu...

“Ibu bikin bukaan apa hari ini?”
Sarat makna aku melontar pertanyaan kepada ibuku, di dalamnya aku bertanya kabar, memohonan maaf, dan mewartakan kesehatanku.
“Hm…, Bue bikin kolak pisang, sama bikin bakwan, jam berapa kamu nyampe tadi?”
Jawaban ibu yang disertai senyuman mengabarkan aku tentang kesehatannya, kemaafannya dan pertanyaan kabarnya kembali kepadaku, belum lagi menu yang beliau siapakan, praktis dia menyambut kedatanganku dengan suka cita. Entah bakwan kesukaan mas Yanto, atau kesukaanku yang ibu buat sore itu aku tidak ingin komentar,
“Jam satu, tadi habis sholat Zuhur langsung ketiduran. Ada yang belum siap bu...?”
“Sudah kok, tinggal nunggu nasinya tanak. Kamu ngaji aja gi, ibu sudah lama nggak dengar kamu ngaji”
“Ya sudah kalau begitu bu...”

Sedari tadi aku memang sudah menyentuh Qur’an, ingin mengkaji dan menderesnya, tapi wajah ibu kan sangat teduh dan sayang untuk tidak kusapa dulu. Akhirnnya aku turuti apa yang barusan dikatakan Ibu, dan sejurus aku ke Roma melewati Qur’an. Kembali ku tinggalkan ibu dan kamarku, aku mengujungi kerajaan Romawi di bawah kekuasaan Raja Heraclius melewati terjemahan dan tafsirnya.

Bersambung...
*Amil: pengurus masjid yang bertugas membagi zakat fitrah
*Garuwa: Istri kiai, guru, atau orang yang dihormati

Saturday, September 19, 2009

Menagih janji pasti

Oleh: Idho Al-fayyadh


Izinkanlah ku berdoa…

Demi hati ku yang risau…
Mengenang perjalanan jauh…
Mencari sisa-sisa cinta…





Di dinginnya nafas embun…
Dalam taburan rintik-rintik hujan…
Di antara temaramnya para bintang…
Dan di tengah syahdunya sautan ayam…

Izinkanlah ku berdoa…
Demi hati ku yang risau…
Mengenang perjalanan jauh…
Mencari sisa-sisa cinta…

Dan ketika esok mata terbuka…
Ku ingin berada di telaga…
Sekelilingnya di hiasi indah ilalang…
Yang ikut bersujud pada Penciptanya…

Kabut pekat tak terlihat…
Bersaing dengan dayu angin…
Mendung gelap telah kalah…
Terbawa arus lembut cahaya surya…

Semuanya bertasbih sendu…
Suasana tahmid terdengar indah…
Bersatu padu dengan kekuatan takbir…
Mengesakan sapaan la ilaha illa anta..

Yakin dengan keagungan firmanMu…
Karena semua makhluk turut menjadi saksi…
Bahwa Engkau tak memungkiri…
Janji-janji kebahagiaan buat kami…

Friday, September 18, 2009

Salam Lebaran...

Pengurus Ikatan Mahasiswa Al-Amin 2009/2010 pingin ngucapin salam lebaran nih...
jangan sedih ya karena ga pulang kampung...
Insya Allah Ramadhan yang kita lalui di perantauan ini mendapat pahala yang setimpal dari Yang Maha Kuasa....
Untuk Warga IKMA yang sangat dibanggakan...
Selamat Hari Raya...
Maaf Lahir Batin...
Minal Aidin wal Faizin...

Thursday, September 17, 2009

Di Lipatan Sajadah Ramadhan (Bag 3)

Ternyata mereka bersepakat ingin aku pulang, karena sudah empat tahun aku tidak lebaran di kampungku, barusaja aku pulang dari tanah Jawa, ingin aku melamarnya, tapi aku hanya seperti bajingan, karena dia sudah terlanjur dekat dengan kawanku sendiri yang sudah aku kenal sejak SD.

Sewaktu nonton TV aku tidak tahu kenapa mataku lekat tidak bisa terbuka, padahal aku baru saja mengecas HP ku, dengan setengah sadar setengah tidak aku melangkah menuju kamar, kamar yang disediakan keluarga temanku itu cukup untuk menhantarku ke selat impian. Acara konsert live Westlife malam itu berlalu saja tanpa aku, ah... sayang sekali padahal tidak selalu aku mendapatkan kesempatan seperti itu, lagu If I let You Go menawan mataku, akibatnya mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.

Kembali aku menemuinya malam itu, kulihat dia tersenyum padaku, tapi di belakangku ada teman ku yang juga memandang kearahnya, aku tak tahu senyum itu untuk siapa, aku merasa aku menjadi penghalang mereka. Soal kecewa jangan lagi ditanya, yang jelas aku juga ingin memilikinya.

Sayup-sayup kudengar ada suara yang sedang bertanya-jawab, seketika itu impianku buyar, agaknya tidurku masih dalam fasa kedua atau tiga dan belum masuk ke fasa rapid eye movement, sehingga otakku gampang saja menerima rangsangan ketika ada yang menarik perhatianku.

Aku kenal suara itu dan aku tahu dari mana asalnya. Aku meloncat dari amben dan spontan bertanya kepada ayah kawanku,
Sinten pak?” (Dari siapa pak)
“Katanya temanmu” Pak Marjan menghulurkan HP pada ku.
“Assalamualaikum”
“Waalaikum salam, kamu lagi di Dayun ya?”
“Iya ada apa Ed?” Kelihatannya Edi sudah bertanya ke Pak Marjan keberadaanku, karna aku tidak mungkin akan memberitahunya nanti.
“Seharusnya aku yang tanya sama kamu Is, kenapa kamu minggat begitu saja? Kmu tidak seharusnya bersikap seperti itu, kasihankan Ibu kamu? Kmu ada masalah apa? Kenapa kamu tidak cerita ke aku kalau kamu tadak berani cerita sama keluargamu?”
Ku biarkan Edi ngomel sampai tiga depa panjangnya, aku diam saja, mungkin dia tidak akan percaya dengan perasaanku, toh dia yang membuat aku begini.
“Apa Ibuku yang nyuruh kamu telpon aku, atau masku?”
“Masmu “

Ternyata mereka bersepakat ingin aku pulang, karena sudah empat tahun aku tidak lebaran di kampungku, barusaja aku pulang dari tanah Jawa, ingin aku melamarnya, tapi aku hanya seperti bajingan, karena dia sudah terlanjur dekat dengan kawanku sendiri yang sudah aku kenal sejak SD.


Setelah kuselidiki nantinya, Edi di suruh oleh masku untuk menelpon aku, karena masku sedikit sebanyak mengerti perasaan ibuku. Meski tidak diucapkan melalui kalimat, ibuku menyimpan rahasia dengan dia. Sebelum masku menyuruh Edi untuk menelponku, ia memberi tahu tentang kekaburanku. Waktu itu aku seperti buronan, lalu Edi menceritakan kepada dia. Dia lalu mengerti sebenarnya ini semua adalah salah faham. Dia yang merasa bersalah lalu mendatangi ibuku dan mengatakan sebabnya aku meninggalkan rumah.

Hampir satu jam aku berbual dengan Edi malam itu, akhirnya kalimat yang seperti sebuah jimat Edi menasehatiku,
“Semuanya sudah ada yang mengatur Is, percaya saja sama Yang di Atas. Kasihan Ibu kamu, pulanglah karena sebentar lagi mau lebaran”
“Baiklah, besok juga aku pulang” ku kubur dalam dalam dan ku ketepikan kekecewaanku, untuk hati Ibu.

Sekitar jam sepuluh pagi, aku sudah siap mandi, ingin sekali aku habiskan pagi ini dengan menyambung tidur lagi, tapi apa kata tuan rumah nanti, di rumahku saja aku tidah pernah tidur pagi setelah subuh, aku teringat almarhum ayahku pernah memberitahu aku, sederhana saja bahwa tidur pagi itu manjauhkan aku dari rezeki.

Aku duduk di teras sambil ditemani Marsani, Ia memilih untuk diam semenjak aku mengutarakan niat untuk pulang pagi ini.

 Marsani mengerti tugasnya untuk manghantar aku ke simpang jalan besar untuk menyetop bus mini. Dia lalu mengeluarkan motornya dan memeriksanya sambil sedikit mengelap sepeda motor tersebut.

Selang beberapa menit ada suara sepeda motor lain kian mendekat, Ibu Marsani pulang dengan belanjaan di obrok belakangnya. Entah jam berapa beliau keluar pagi tadi, aku tidak melihatnya. Sambil membuka topeng muka yang di gunakan untuk penghalang debu, beliau lalu mengabari Marsani,
“Gula di kadai Ah tiong 5.500 Rupiah San, nggak biasanya” sepertinya kalimat itu sudah dihapalnya sewaktu di perjalanan tadi.
Kok mahal mak” respon Marsani tidak ingin Ibunya bicara sendiri, padahal aku yakin dia tidak tahu persis harga tolak gula yang dijual di warungnya.
“Emak tancap ke kedai Ah pek, ternyata di sana cuma 5.450 Rupiah”
Whalah 50 perak aja emak milih yang lebih jauh tiga kilo meter?” setengah bertanya Marsani meledek ibunya.
“50 perak kali 50 kilo San, kamu ini sepele, ga tau orang dagang”
Ibu Marsani memang sangat perhitungan orangnya, meski tidak pelit tapi beliau sangat teliti, kalau pun barang itu bukan untuk di jual lagi, keperluan hariannya pun di beli setelah melalui seleksi harga-harga seantero pasar, ketelitian itulah yang membawa Beliau dan Pak Marjan memenuhi panggilan Illahi ketanah suci tahun lalu. Banyak orang bilang, kalau orang dagang itu pasti pelit, tapi tidak dengan Ibu Sunarti, beliau masih dapat membedakan mana sedekah dan mana jualan.

Lho-lho kok ada tas segala mau kemana ini Ismail Amrullah” Ibunya Marsani selalu memanggilku dengan nama penuh pemberian orang tuaku semenjak beliau mengenalku.
Bade mantuk bu” (mau pulang bu)
Kok mantuk piye?” (Pulang bagaimana maksud kamu?)
“Ibu bade kirim dungo selametan” (Ibu mau mangadakan acara selamatan) setiap lima waktu, aku yakin Ibuku selalu mendoakan kesejahteraan leluhur dan almarhum bapakku, jadi alasan itu bukan bohong kukira.
“Tak pikir kamu mau tinggal dulu sehari atau dua hari lagi di sini, yo wes mengko kirim salam kanggo Ibu mu yo” (ya sudah, sampaikan salam untuk Ibumu”
Enggeh bu, Insya Allah” (Iya bu,Insya Allah)

Setelah mencium tangan Ibu Sunarti dan Pak Marjan, aku lalu meniggalkan kampung itu untuk sementara, aku yakin aku akan datang lagi suatu saat nanti, karena aku sudah terlanjur menganggap mereka seperti orang tuaku sediri.

Bersambung...

*Obrok (Jawa): Keranjang yang mudah dibongkar-pasang di sepeda motor, diletakkan di tempat duduk belakang, digunakan untuk mengangkut barang.
*Perak:  Kata ini diigunakan untuk menggantikan kata Rupiah dalam percakapan orang Jawa, biasanya disebut untuk nominal yang kecil.

Di Lipatan Sajadah Ramadhan (Bag 2)

Mas Anto duduk merenungi Yamaha Vega-nya di beranda samping rumah, kami memanggilnya emper. Dulu emperan ini keliling rumah membentuk liter U, kanan, kiri, dan belakang. Emper kiri kami gunakan sebagai tempat meletakkan barang yang benar-sudah tudak di pakai, emper belalakang pula tempat menumpuk kayu bakar dan perkakas dapur, seperti periuk, belangah dan lainnya yang umumnya berwarna gelap. Sedangkan emperan kanan rumah kami jadikan tempat istirahat setelah semua orang pulang kerja. Emperan itu juga tempat Mas Anto dan aku mengotak-hiatik sepeda motor , misalnya menampal ban, mengelap dan macam-macam lagi. Sejak aku SMA, emperan tersebut sedikit demi sedikit aku kurangi dan ku rapihkan seperlunya.


Jadilah emperan itu tinggal satu sisi sebelah kanan rumah, tempat aktivitas dan gudang simpanan barang bekas jadi satu.
“ Aku mau pinjam uang sama si Sarmin Bu...” Mas Ikrar Muliyanto memulai bicara sambil mengelap sepeda motornya.
“ Mau dibikin apa Yan...?”
“ Beli motor”
“ Beli motor? Lha motor mu ini mau kamu jual?” Ibuku keheranan.
“ Untuk Ismail, biar dia betah di rumah, mungkin dia malu pake motor peninggalan Bapak, sebentar lagi kan mau lebaran”
“ Memangnya, adikmu kabur gara-gara motor?”
“ Trus kenapa? Aku tahu buk... perasaan anak muda”
“Tapi adikmu nggak seperti anak muda yang lain Yan, nggak seperti yang kamu fikirkan”
“Lha trus Kenapa? Bue tahu Ismail pergi kemana dan sebabnya apa?”
“ Bue ngak tau, orang pamit aja nggak” sambil menanggalkan baju basahan ibu sambil lalu.
“ Di rekeningku ada, tapi nggak nyukupi, malam ini paling aku mau ngomong sama Sarmin”
“ Kamu nggak malu Yan?” Ibu tahu Mas Yanto ngajak serius.

Ibu paling ahli dalam masalah satu ini, baginya ada hal-hal yang harus dihindari dalam bergaul, meskipun aturan itu tidak tertulis, tapi beliau tetap menganggapnya sebagai peraturan. Meskipun tidak ada sekolah yang pernah disinggahinya, tapi ajaran-ajaran akhlak lengket di tangannya. Meskipun tidak ada resantren yang pernah beliau inapi, namun pengalaman hidupnya cukup di dijadikan mata pelajaran bagi anak-anaknya.

“Malu kenapa bu?”
”Kemaren waktu Sarmin nginap di puskesmas saja, kamu nggak bantu berobatnya, boro-boro, kamu malah beli bas sama alat-alat karaokeanmu itu”

Mas Yanto berhenti ngelap motornya seketika merekam setiap kata ibu. Dia teringat waktu Sarmin keluar dari Puskesmas, pernah mengutarakan niat ingin meminjam uang sama mas Yanto, Sarmin mau menebus sepeda motornya yang di bengkel akibat kemalangannya.

Waktu itu mas yanto sudash nggak punya tabungan karena habis dibelikan satu set sound system, akhirnya sepeda motor si Sarmin mondok dua bulan di bengkel sampai Sarmin dapat gaji.
“Itu kan sudah lama banget bu, aku yakin Sarmin sudah lupa”
“Tapi gaji kamu kan lebih tinggi To..? yang ini apa Sarmin juga lupa? Kamu supir, dia cuma kenek”
“Ya sudah kalau Ibu nggak ngizinin”
“Ibu bukannnya tidak ngizinin, cuma pingin ngingetin kamu, supaya kamu tau ada hal-hal yang patut dan tidak patut di dunia ini, bukan cuma ngitung dosa atau pahala saja nak...”

Kuliah pagi itu hanya berakhir sampai disitu, setelah bersih-bersih di kamar mandi yang jaraknya hanya sembilan meter dari emperan itu, ibu lalu masuk ke dapur, mendapatkan kembali beras yang di rendamnya malam tadi. Malam ini giliran keluarga kami membawa jaburan, Ibu, seperti waktu aku masih kecil, mau membuat kueh pipis untuk di bawa ke masjid.

Waktu itu hanya beras satu-satu nya bahan kueh yang Ibu punya. Setelah ditumbuk menjadi tepung, Ibu mencapur dan memasaknya dengan santan, daun pandan dan sedikit gula, setelah setengah masak, ibu membungkusnya dengan daun pisang. Mencari daun pisang dan daun pandan-lah tugasku waktu itu. Sangat sederhana, dan bahan-bahan itulah yang kami ada waktu itu, kalau ada pisang yang sedang masak, Ibu menambah inti spesial, maka jadilah kueh pipis pisang resepi Ibuku.

Setelah siap dibungkus, tugasku yang terakhir adalah menggunting lebihan daun pisang supaya kelihatan rapi, sekaligus memasukkan ke dalam dandang untuk dikukus. Ibu tidak mengizinkan aku ikut membungkus, takut tidak jadi, karna bikin kuehnya pas-pasan.

*Kata bas di gunakan untuk menyebut speaker yang besar, ia sangat mudah untuk dialamatkan kepada benda tersebut, karena bagi orang desa, suara yang besar-besar tone nya berasal dari benda itu.
*Jaburan: Kueh-kueh atau makanan ringan yang dihidangkan selepas shalat Tarawih.
Bersambung...

Di Lipatan Sajadah Ramadhan

Oleh: Ahmady

Shoalat tarawih baru berjalan empat rekaat, waktu itu tiba-tiba angin bertiup sangat kencang, membuat panik anak anak yang solat di barisan belakang. Semua mmengomel-ngomel “Angin, angin, hujan, hujan” ku lirikkan mata, mereka ada yang berdesak-desakan mengatur kembali posisinya yang sedari tadi semrawut. Ada yang tolak-menolak, masing-masing ingin membetuli diri, seolah merasa bersalah terhadap tuhan, karena solat sambil main-main. Sehingga tuhan menurunkan hujan dan angin ribut, sebagai teguran terhadap tingkah laku mereka. Itu lah yang berputar di kepala mereka.


Diam-diam aku pun ikut panik, betapa tidak, atap zeng dibuatnya berbunyi-bunyi. Tabir penghijab antara jamaah putra dengan jamaah putri pun tersibak keatas, hinga menyentuh lampu neon yang di gantung agak rendah, kepalaku saja sampai padanya.

Aku yang tadinya kepanasan, kini tidak lagi, justru kedinginan tertiup angin yang lewat dari celah-celah dinding yang agak jarang. Hatiku risau “Jangan-jangan akan terjadi apa-apa” ada- ada saja.

Anak-anak kembali sibuk, dan berebut tempat menghindar dari bocoran, ketika kembali kulirik, mereka suadah berbaris rapi tanpa suara, sepertinya mereka juga merinding dengan keadaan itu.

Tiba-tiba teringat oleh pikiranku ketika seusia mereka, saat waktunya solat terawih pasti sibuk dengan pena dan buku, kononnya untuk catatan amaliah romadhon. Ya, namanya juga anak SD,harus ikut apa kata guru, entah apa faedahnya, aku pun tak ambil pusing waktu itu. Apa yang aku tahu, mencari tanda tangan sebanyak-banyaknya, supaya ketika selesai ramadhan, buku tersebut bisa di setor ke guru. Setelah diadakannya evaluasi, bagi yang rajin salat tarawih- atau yang rajin datang hanya sekedar untuk mencari tanda tangan pun- biasa nya mendapat imbalan dari guru, bahkan mereka akan memberikan sejenis piagam penghargaan, yang membuat bangga. Begitulah beberapa tahun dahulu, masa-masa penuh ceria yang tak kan mungkin akan kutemukan lagi.

Malam itu, malam kedua aku shalat tarawih di masjid itu. Masjid seukuran 20 kaki persegi yang cukup memberiku ketenangan. Konon nya masjid ini berdiri belasan tahun yang lalu, praktis saat berdirinya dusun ini, dusun Bangun gajah yang jauh dari keramaian kota. Masjid Nurul Iman itu tak tersentuh pembangunan sejak berdiri untuk yang pertama kali, tak juga mendapat perhatian pemerintah daerah. Padahal rumah-rumah di sekelilingnya telah lebih tinggi dan besar dari masjid itu sendiri, dari pada rumah-rumah transmigrasi belasan tahun lalu.



Meski begitu, sebenarnya dusun itu jauh dari istilah daerah terisolasi. Karena, meski jauh di dalam, akan tetapi jalan nya licin oleh roda-roda pengangkut kelapa sawit. Selain penghasil kelapa sawit terbesar di kecamatan Dayun, tempat itu memiliki air yang sangat jernih seperti air botol aqua. Itu yang membuat aku betah disana.

Aku lari meninggalkan rumah, karna aku merasa kecewa dengan seseorang. Dia tidak pernah menganggap keberadaan ku, aku bersikap bisu terhadap siapa saja yang ada di rumahku, padahal dibulan puasa kami selalu makan sahur dan buka bersama, tapi kali ini aku hanya mengambil jatah ku dan memakannya di dalam kamarku. hingga suatu hari ibuku menjadi mangsa kekecewaanku, tentunya sebagai anak yang tak ingin melukai hati ibu, aku tak ingin itu berlarut. Sehingga pada suatu pagi, aku putuskan untuk pergi kerumah teman ku yang berjarak 2 jam perjalanan dengan minibus. Itu pun karena aku tak tahan mendengar tangisan ibuku semalaman. Ibu begitu prihatin terhadap ku, meski aku tak pernah mengadu, tapi beliau dapat menangkap kesedihan ku.

“ Kenapa Is kamu seperti ini?” Tangis ibu dipundak ku malam itu.

“Apa Ibu punya salah sama kamu? Ngomong Is... Jangan buat Ibu seperti ini”

Aku tak menjawab sepatah kata pun, sehingga basah punggung ku oleh tangisan Ibu, ”Maafkan Ismail Bu.. Is tidak bermaksud menyakiti Ibu, apa lagi sampai membuat Ibu menangis, tidak Bu.. sungguh tidak, Is pun tidak bisa mengatakan ini pada Ibu, berat Bu, seberat memikul gunung” aku hanya mengeluh di dalam hati membiarkan Ibu tersedu-sedu di pundakku.

Kenapa Ibu sangat merasa bersalah dengan sikapku? Begitu inginnya Ibu menghiburku, tapi semua tak berarti bagiku. Karna tak seorang pun mengerti hatiku. Ingin kucari obat itu di dusun sahabat karibku. Barang kali aku akan terhibur, atau sekurang-kurang nya menghilangkan rasa bersalah Ibu. ”Maafkan Is Ibu, tak biasanya Is meninggalkan rumah tanpa berpamitan dengan Ibu” Ku tekad menghibur diri dari keruntuhan hatiku.

Bersambung.. ..
 

Komentar Terbaru

Ikmalaysia Followers